BAB III
MEMPERTAHANKAN
KEJUJURAN SEBAGAI CERMIN
KEPRIBADIAN
TUJUAN PEMBELAJARAN
Peserta didik mampu:
a. Meyakini bahwa jujur adalah ajaran pokok agama.
b. Menunjukkan perilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari.
c. Menganalisis manfaat kejujuran dalam kehidupan sehari-hari.
d. Menyajikan kaitan antara contoh perilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari dengan keimanan.
* MEMBUKA RELUNG HATI
![]() |
| Pembeli dan Penjual Yang Jujur |
Kisah menarik berikut ini mungkin dapat menginspirasi dan memotivasi kita
agar selalu mempertahankan kejujuran dalam segala kondisi. Simaklah kisahnya
sebagai berikut.
Suatu ketika seorang sahabat Rasulullah saw. yang bernama Wasilah ibn Iqsa
sedang berada di pasar ternak. Tiba-tiba saja ia menyaksikan seseorang tengah
menawar unta. Ketika ia lengah, pembeli itu telah menuntun unta yang telah
dibelinya dengan harga 300 dirham. Wasilah bergegas mendapatkan si pembeli
tersebut seraya bertanya, “Apakah unta yang engkau beli itu unta untuk disembelih
atau sebagai tunggangan?” Si pembeli menjawab, “Unta ini untuk dikendarai.”
Kemudian Wasilah memberikan nasihat bahwa unta tersebut tidak akan tahan
lama karena di kakinya ada lubang karena cacat. Pembeli itu pun bergegas kembali
menemui si penjual dan menggugat, sehingga akhirnya terjadi pengurangan
harga 100 dirham.
Si penjual merasa jengkel kepada Wasilah seraya mengatakan, “Semoga engkau dikasihi Allah Swt., dan jual-beliku telah engkau rusak.”
Mendengar ucapan tersebut, Wasilah menimpalinya, “Kami sudah berbai’at kepada Rasulullah saw.
untuk berlaku jujur kepada setiap muslim, sebagaimana Rasulullah saw. bersabda,
‘Tiada halal bagi siapa pun yang menjual barangnya kecuali dengan menjelaskan
cacatnya, dan tiada halal bagi yang mengetahui itu kecuali menjelaskannya.’
(H.R.Hakim, Baihaki, dan Muslim dari Wasilah).”
Itulah nilai-nilai kejujuran, walaupun berisiko, namun tetap harus dijunjung
tinggi dalam kehidupan. Kejujuran itu sangat mudah diucapkan oleh setiap orang,
tetapi sedikit sekali yang dapat menerapkannya.
* MENGKRITISI SEKITAR KITA
Berbagai cara dilakukan oleh sebagian orang untuk memenuhi keinginan dan
kebutuhan hidupnya. Ada yang melakukannya dengan memotivasi diri dengan
bekerja keras dan menaati aturan yang ada. Tentu hal tersebut merupakan cara-cara
yang memang seharusnya ditempuh.
Akan tetapi, tidak sedikit orang yang
menempuh cara-cara yang bertentangan dengan hukum dan peraturan yang
berlaku, baik hukum agama maupun peraturan yang berlaku yang dibuat oleh
pemerintah. Mereka jauh dari nilai-nilai kejujuran. Bagi mereka, cara apa pun
boleh yang penting tujuannya tercapai.
Berani jujur hebat! Kalimat tersebut adalah sebuah slogan yang marak
disuarakan oleh para aktivis antikorupsi untuk mendukung kerja Komisi
Pemberantas Korupsi (KPK) dalam menjalankan tugasnya “menangkap” para koruptor.
![]() |
| Gedung Komisi Pemberantas Korupsi (KPK) |
Sebagaimana yang kita ketahui bahwa, semenjak dibentuknya KPK,
sudah banyak penjahat “kerah putih” yang menggerogoti uang rakyat dengan
cara licik dan kejam. Mereka sudah memperoleh jabatan yang tinggi dengan
segenap fasilitas yang diberikan negara, tetapi masih saja melakukan praktik-praktik
kotor dengan cara memanipulasi,melambungkan harga belanja barang,laporan keuangan fiktif,
dan sebagainya.
Namun demikian, tidak semua pejabat
berperilaku seperti itu. Banyak di antara pejabat di negeri ini yang masih memiliki
hati nurani dengan berperilaku jujur dan amanah. Mereka hidup bersahaja
dengan penghasilan yang sah diberikan oleh negara.
* MEMPERKAYA KHAZANAH
A. Memahami makna kejujuran
1. Pengertian Jujur
Dalam bahasa Arab, kata jujur semakna dengan “as-sidqu” atau “siddiq”
yang berarti benar, nyata, atau berkata benar.
Lawan kata ini adalah dusta, atau dalam bahasa Arab ”al-kazibu”.
Secara istilah, jujur atau as-sidqu bermakna:
(1) kesesuaian antara ucapan dan perbuatan;
(2) kesesuaian antara informasi dan kenyataan;
(3) ketegasan dan kemantapan hati; dan
(4) sesuatu yang baik yang tidak dicampuri kedustaan.
2. Pembagian Sifat Jujur
Imam al-Gazali membagi sifat jujur atau benar (siddiq) sebagai berikut.
a. Jujur dalam niat atau berkehendak, yaitu tiada dorongan bagi seseorang dalam segala tindakan dan gerakannya selain dorongan karena Allah Swt.
b. Jujur dalam perkataan (lisan), yaitu sesuainya berita yang diterima dengan yang disampaikan. Setiap orang harus dapat memelihara perkataannya.
Ia tidak berkata kecuali dengan jujur. Barangsiapa yang menjaga lidahnya dengan cara selalu menyampaikan berita yang sesuai dengan fakta yang sebenarnya,
ia termasuk jujur jenis ini. Menepati janji termasuk jujur jenis ini.
c. Jujur dalam perbuatan/amaliah, yaitu beramal dengan sungguh-sungguh sehingga perbuatan zahirnya tidak menunjukkan sesuatu yang ada dalam batinnya
dan menjadi tabiat bagi dirinya.
Di antara faktor yang menyebabkan Nabi Muhammad SAW berhasil dalam dakwahnya adalah karena sifatsifat dan akhlaknya
yang terpuji. Salah satu sifatnya yang menonjol adalah kejujurannya, sehingga ia mendapat gelar Al-Amin (orang yang dapat dipercaya atau jujur).
B. Ayat dan Hadis tentang perilaku jujur
1. Q.S. al-Maidah/5:8
Ayat ini memerintahkan kepada orang mukmin agar melaksanakan
amal dan pekerjaan mereka dengan cermat, jujur, dan ikhlas karena
Allah Swt., baik pekerjaan yang bertalian dengan urusan agama maupun
pekerjaan yang bertalian dengan urusan kehidupan duniawi. Karena
hanya dengan demikianlah mereka dapat sukses dan memperoleh hasil
balasan yang mereka harapkan. Dalam persaksian, mereka harus adil
menerangkan apa yang sebenarnya, tanpa memandang siapa orangnya,
sekalipun akan menguntungkan lawan dan merugikan sahabat dan kerabatnya sendiri.
2. Q.S. at-Taubah/9:119
Kandungan Q.S. at-Taubah/9:119
Dalam ayat ini, Allah Swt. menunjukkan seruan-Nya dan memberikan
bimbingan kepada orang-orang yang beriman kepada-Nya dan RasulNya,
agar mereka tetap dalam ketakwaan serta mengharapkan ridha-Nya,
dengan cara menunaikan segala kewajiban yang telah ditetapkan-Nya,
dan menjauhi segala larangan yang telah ditentukan-Nya, dan hendaklah
senantiasa bersama orang-orang yang benar dan jujur, mengikuti
ketakwaan, kebenaran dan kejujuran mereka. Dan jangan bergabung
kepada kaum munafik, yang selalu menutupi kemunafikan mereka dengan
kata-kata dan perbuatan bohong serta ditambah pula dengan sumpah
palsu dan alasan-alasan yang tidak benar.
"Hendaklah senantiasa bersama orangorang yang benar dan jujur, mengikuti ketakwaan dan kebenaran dan kejujuran mereka"
Isi kandungan ayat tersebut terdapat dalam QS. AtTaubah: 119
3. HR Muslim dari Abdullah bin Mas'ud RA
Artinya:
Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud ra., Rasulullah saw. bersabda, “Hendaklah kamu berlaku jujur karena kejujuran menuntunmu pada kebenaran, dan kebenaran menuntunmu ke surga. Dan sesantiasa seseorang berlaku jujur dan selalu jujur sehingga dia tercatat di sisi Allah Swt. sebagai orang yang jujur. Dan hindarilah olehmu berlaku dusta karena kedustaan menuntunmu pada kejahatan, dan kejahatan menuntunmu ke neraka. Dan seseorang senantiasa berlaku dusta dan selalu dusta sehingga dia tercatat di sisi Allah Swt. sebagai pendusta.” (H.R. Muslim)
Kandungan Hadis
Salah seorang sahabat nabi yang mungkir(tidak ikut) dari peperangan bukan karena sakit ataupun ada suatu masalah tertentu, ketika
perang Tabuk untuk menyerang antara Romawi dan orangorang Kristen di Syam adalah Ka'ab bin Malik RA.
Sekembalinya pasukan Rasulullah saw. ke Madinah, ia pun bergegas menemui Rasulullah saw.
dan berkata jujur tentang apa yang ia lakukan. Akibatnya, Rasul menjadi murka, begitu pula sahabat-sahabat lainnya.
Ia pun dikucilkan bahkan diperlakukan seperti bukan orang Islam, sampai-sampai Rasulullah saw. memerintahkannya untuk berpisah dengan istrinya.
Setelah lima puluh hari berselang, turunlah wahyu kepada Rasulullah saw. yang menjelaskan
bahwa Allah Swt. telah menerima taubat Ka’ab dan dua orang lainnya. Allah
Swt. benar-benar telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan
Ansar yang mengikutinya dalam saat-saat sulit setelah hingga saja hati
sebagian mereka bermasalah. Kemudian, Allah Swt. menerima taubat
mereka dan taubat tiga orang yang mangkir dari jihad sampai-sampai
mereka merasa sumpek dan menderita. Sesungguhnya Allah Swt. Maha Pengasih dan Penyayang.
* JUJUR MESKIPUN BERSENDA GURAU
1. CERITA NABI DENGAN NENEK TUA YANG TIDAK MASUK SURGA
2. CERITA NABI MAKAN KURMA DENGAN 'ALI DAN PARA SAHABAT LAINNYA
* MENERAPKAN PERILAKU MULIA
Penerapan perilaku jujur dalam kehidupan sehari-hari baik di lingkungan keluarga, sekolah, maupun masyarakat misalnya seperti berikut.
1. Meminta izin atau berpamitan kepada orang tua ketika akan pergi ke mana pun.
2. Tidak meminta sesuatu di luar kemampuan kedua orang tua.
3. Mengembalikan uang sisa belanja meskipun kedua orang tua tidak mengetahuinya.
4. Melaporkan prestasi hasil belajar kepada orang tua meskipun dengan nilai yang kurang memuaskan.
5. Tidak memberi atau meminta jawaban kepada teman ketika sedang ulangan atau ujian sekolah.
6. Mengatakan dengan sejujurnya alasan keterlambatan datang atau ketidakhadiran ke sekolah.
7. Mengembalikan barang-barang yang dipinjam dari teman atau orang lain, meskipun barang tersebut tampak tidak begitu berharga.
8. Memenuhi undangan orang lain ketika tidak ada hal yang dapat menghalanginya.
9. Tidak menjanjikan sesuatu yang kita tidak dapat memenuhi janji tersebut.
10. Mengembalikan barang yang ditemukan kepada pemiliknya atau melalui pihak yang bertanggung jawab.
11. Membayar sesuatu sesuai dengan harga yang telah disepakati.
* RANGKUMAN
1. Jujur (as-sidqu) adalah mengatakan sesuatu sesuai dengan kenyataan, sedangkan dusta (al-kazibu) adalah mengatakan sesuatu tidak sesuai dengan kenyataan.
2. Kejujuran merupakan petunjuk dan jalan menuju surga Allah Swt., sedangkan dusta adalah petunjuk dan jalan menuju neraka.
3. Jujur adalah sifat para nabi dan rasul Allah Swt., sedangkan bohong atau dusta adalah ciri atau sifat orang-orang munafik.
4. Kejujuran akan menciptakan ketenangan, kedamaian, keselamatan, kesejahteraan, dan kenikmatan lahir batin baik di dunia maupun di akhirat
kelak. Sementara, kedustaan menimbulkan kegoncangan, kegelisahan,konflik sosial, kekacauan, kehinaan, dan kesengsaraan lahir dan batin baik di
dunia apalagi di akhirat.
5. Diperbolehkan dusta hanya untuk tiga hal saja, yaitu ketika seorang istri memuji suaminya atau sebaliknya. Ketika seseorang yang akan mencelakai
orang yang tidak bersalah dengan mengatakan bahwa orang yang dicari tidak ada. Ketika ucapan dusta untuk mendamaikan dua orang yang sedang
bertikai agar damai dan rukun kembali.
* EVALUASI
A. Uji Pemahaman
1. Tulislah salah satu ayat yang berhubungan dengan kejujuran lengkap dengan artinya.
2. Tulislah salah satu hadis tentang perilaku jujur lengkap dengan artinya.
3. Tuliskan beberapa keuntungan di dunia sebagai buah dari perilaku jujur.
4. Sebutkan sikap yang harus ditunjukkan agar terhindar dari perilaku dusta.
5. Tuliskan 3 (tiga) dampak negatif akibat perilaku dusta yang dilakukan.
KISAH UMAR RA DAN ANAK PENGEMBALA KAMBING YANG JUJUR
Terimakasih!
Semoga Ilmu yang didapat bermanfa'at, Aamiin



